Tragedi Minggu Malam




Pengalaman mengerikan ini terjadi belum genap satu tahun yang lalu. Tepatnya terjadi di bulan November 2018. Ini adalah pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan. Begitu mengerikan, hingga rasanya setiap kali naik motor dia akan berakhir dengan kondisi yang sama seperti saat itu. Dia adalah Witia. Saat itu dia sedang mengambalikan barang dagangan pada pemilik usaha tempatnya bekerja. Setiap Minggu dia berjualan kerudung di Sunmor. Sebelum berjualan dia harus mengambil dagangan dan setelahnya dia harus mengembalikan krudung yang belum terjual ke rumah pemilik usaha tersebut. Rumahnya berada di Bantul, cukup jauh memang dari kos tempat dia tinggal.
Setelah berbincang cukup lama dengan pemilik usaha tersebut, Witia yang saat itu dibonceng oleh teman kosnya yaitu Mbak Farida memutuskan untuk pulang. Mereka pulang larut malam karena sebelumnya mereka terlalu asyik mengobrol setelah makan bersama. Jalanan begitu sepi dan lengang. Mbak Farida yang saat itu memegang kemudi memutuskan untuk menarik gas dan membuat motor melaju kencang. Saat itu Witia juga membawa beberapa kerudung pesanan sehingga membuat motor mereka sedikit sesak.
Belum genap 300 meter mereka meninggalkan rumah pemilik usaha, hal mengerikan itu terjadi. Di depan motor mereka tiba-tiba ada seorang abang ojek online berbelok dengan santainya tanpa memberikan kode, lampu sein. Pastinya sudah tertebak apa yang akan terjadi. Witia dan Mbak Farida harus mengerem mendadak. Witia terlempar ke depan dan Mbak Farida menabrak abang ojek online tersebut. Kejadian yang sangat mengerikan ini terjadi begitu cepat tanpa diduga-duga. Witia terlempar kurang lebih tiga meter. Dia terguling di atas aspal tanpa tahu apa yang terjadi saat itu. Keadaan terasa gelap sementara. Dia merasa sangat terguncang dan bingung.
Tidak beberapa lama datanglah orang-orang sekitar. Mereka membantu Witia untuk bangun dan sadar kembali. Setelah itu, barulah dia sadar bahwa dia dan Mbak Farida telah mengalami kecelakaan. Dia merasa sangat panik. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari dengan helm yang masih menempel di kepala menuju rumah pemilik usaha kerudung tempanya bekerja. Dia bermaksud meminta bantuan. Akan tetapi, hal yang sedikit sial terjadi. Dengan kondisi yang belum sadar sepenuhnya dia merasa bingung ketika mencari rumah pemilik usaha itu. Padahal, menurut dia rumahnya tidaklah jauh karena mereka baru berjalan beberapa saat. Dia cukup kesulitan saat itu, tetapi akhirnya dia bisa menemukannya. Witia segera memberi kabar pada pemilik usaha kerudung tempatnya bekerja mengenai kejadian yang menimpanya dan Mbak Farida. Mereka semua akhirnya pergi ke rumah sakit.
Kejadian mengerikan tidak berhenti sampai di situ. Setelah Witia dan Mbak Farida selesai berobat mereka pulang kembali ke rumah. Witia segera membersihkan diri karena kondisinya sangat kotor selepas kecelakaan. Setelah selesai membersihkan diri para penghuni kos merasakan ada bau harum yang tidak biasa. Mereka bertanya-tanya dari mana datangnya bau harum itu. Seluruh penghuni kos mencari-cari sumber wangi tersebut. Sampai akhirnya seorang anak indigo menemukan adanya bunga kantil di dalam tas Mbak Farida. Semua orang terkejut saat itu. Menurut penjelasan anak indigo tersebut, bunga itu merupakan hasil pertabrakan energi dari masa lalu dan masa kini di tempat mereka kecelakaan.
Itulah kejadian mengerikan yang menimpa Witia dan teman kosnya. Semua hal terjadi begitu cepat dan tanpa diduga-duga. Tidak ada satu orang pun yang mengharapkan nasib nahas seperti itu terjadi. Witia sampai saat ini masih mengalami trauma. Akan tetapi, hal itu bisa menjadi pembelajaran agar senantiasa berhati-hati ketika mengemudi. Walaupun jalanan sepi kita tidak perlu menggunakan kecepatan tinggi karena sangatlah berbahaya. Sekarang Witia menjadi sangat waspada saat berada di jalanan agar hal buruk itu tidak terulang.

Penulis : Hani Latifah

Komentar

Tim Penyusun

1. Jamas Adri Waskito (18201241049)
2. Endah Dwi Ningrum (18201241057)
3. Hani Latifah (18201241059)
4. Zhao Caini (Anjani)

Kami merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2018.
Blog ini disusun untuk memenusi salah satu tugas Mata Kuliah Menulis Faktual

Postingan populer dari blog ini

Aspek Lisan Teks Eksposisi

Cara Membuat Lilin Aroma Terapi

Tiga Arca dalam Satu Kesatuan Syiwa di Candi Sambisari