Sudut Harum Tugu Jogja
Asap
putih muncul dari dalam mulut pria tua itu. Mirip seperti adegan keluarnya jin
teko dalam kisah Aladin, berupa asap yang mengepul naik. Yaa, itu adalah salah
satu bagian dari aktivitas merokok. Merokok merupakan kegiatan yang sangat
lazim ditemui di Indonesia. Kegiatan ini dilakoni oleh masyarakat tanpa ada
batasan yang jelas siapa saja yang disebut sebagai perokok. Tua dan muda, pria
dan wanita, semuanya tanpa rasa canggung sedikitpun seringkali ditemui sedang
menghisap batangan berisi tembakau dan zat-zat lain itu. Bahkan, muncul istilah
perokok aktif dan pasif untuk mereka yang benar-benar menghisap batangan rokok
dan yang hanya menghirup asapnya saja. Rokok yang ada saat ini kebanyakan sudah
berbentuk batangan cantik yang sudah diracik sedemikian rupa oleh pabrik.
Peminat
rokok pabrik ini sangatlah banyak. Alasannya lagi-lagi karena istilah “praktis
dan nikmat” yang digaungkan oleh para produsen rokok jenis ini. Di tengah tren
rokok batangan pabrik ini, ternyata masih ada orang-orang klasik yang menyukai
rokok racikan sendiri. Klasik bukan berarti tua, tetapi label klasik ini
berarti orang-orang tersebut masih setia dengan cara-cara lama yang mereka
pegang sebagai sebuah kenikmatan yang tak bisa dijelaskan. Inilah yang menjadi
salah satu alasan Setyowati masih membuka toko tembakaunya.
Toko
tembakau ini berada di perempatan Tugu Jogja, tepatnya dari arah barat. Toko
ini tidak terlalu besar. Mirip seperti kios pada umumnya. Namun, dari kejauhan
kita akan langsung bisa melihat serbuk-serbuk coklat yang disimpan dalam toples
kaca. Aroma tembakau pun sangatlah kuat. Tidak perlu berdiam di toko untuk
mencium aroma tembakau yang sangat kuat itu, jarak beberapa meter dari toko saja
aroma tembakau ini sudah tercium. Toko ini juga tidak memiliki nama spesial
yang menjadi ciri khas. Pemilik hanya memasang papan nama bertuliskan “Toko
Tembakau & Cerutu” dan di bawahnya diberikan alamat dan nomor telepon dari
toko tersebut yaitu Jl. P. Diponegoro No. 4 Telp. (0274) 512771.
Setyowati
menuturkan toko ini didirikan pada tahun 1919 oleh Tan Kwi Wa, ibu mertuanya. Seperti
layaknya usaha keluarga pada umumnya, Setyowati yang menerima mandat toko ini
menjalankan usaha bersama keluarganya. Orang yang melayani pembeli di toko ini
berasal dari keluarganya yaitu anak-anaknya. Setyowati adalah orang yang sangat
legowo dalam menjakankan usaha yang sudah tidak dilirik orang ini. Dia
mengatakan ketika menghadapi persaingan dengan rokok batangan pabrik dia hanya
pasrah dan mengandalkan para pembeli setianya. Dia tidak pernah menerapkan
strategi bisnis tertentu. Semua berjalan sesuai arus pasar yang ada. Toko ini
sebenarnya tidak hanya menjual tembakau kering dan cerutu tetapi juga rokok
batangan pabrik. Namun, yang menjadi ciri khas tetap tembakau murninya.
Rokok
bukanlah barang yang dilarang peredarannya. Sekarang, rokok menjadi salah satu
komoditi besar dalam perdangan di Indonesia. Mungkin inilah yang menjadi alasan
sebuah toko tembakau tradisional masih bertahan di sudut Tugu Jogja selama satu
abad lamanya. Ukurannya memang tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan
para pengagum serbuk kering beraroma khas ini. Manfaat relaksasi menjadi alasan
yang sering digunakan para penikmat rokok. Benar saja hanya dalam hitungan
menit toko ini telah melayani banyak pembeli yang datang silih berganti. Mulai
dari kakek-kakek hingga seorang pemuda berseragam dinas. Mereka mencari
berbagai jenis tembakau yang didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari toko tembakau dan cerutu milik Setyowati ini bisa dirasakan bahwa
tembakau adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat
Indonesia. Mungkin khususnya Jogja. Toko kecil ini tidak akan bertahan tanpa
adanya penikmat setia berbagai jenis tembakau kering dari seluruh Indonesia. Seperti
yang diketahui, Setyowati tidak menerapkan strategi perdagangan khusus. Dia
hanya menunggu para pelanggan setianya. Meracik sendiri rokok tembakau
merupakan sebuah budaya klasik masyarakat yang menjadi ciri sebuah peradaban
yang tidak lekang oleh perubahan zaman. Inilah fakta dari sudut harum Tugu
Jogja.
Penulis : Hani Latifah

Komentar
Posting Komentar