Roger Meddows Taylor mengenai Freddy Mercurry

Image result for roger meddows taylor"




Aku, Roger Meddows Taylor yang dulunya sekaligus drummer band pertamaku yaitu “Smile”. Setelah tamat sekolah menengan, aku pindah ke London untuk mempelajari kedokteran gigi, tetapi kemudian aku beralih ke biologi. Pada 1968 aku bertemu dengan Brian May dan Tim Staffell dan membentuk band “Smile”. Pada suatu malam, sesaat selesai tampil menghibur penonton disalah satu klub, tiba-tiba vokalis kami Tim Staffel memutuskan hengkang dari band “Smile” ini karena band ini tidak akan berkembang jika hanya tampil pada acara kampus dan klub malam saja. Tetapi setelah Staffell hengkang, Freddie Mercury sebagai vokalis dan John Deacon sebagai bassis bergabung disaat kami duduk diatas mobil van kami memikirkan nasib band kami. dan kami membentuk band ““Queen””.
Aku sangat suka dengan Freddie, awalnya aku menganggap remeh dia, baik dari fisik dan kemampuan, tetapi dia memang memiliki suara yang khasdan berkarakter juga. Selain itu, dia juga menyiapkan beberapa lagu untuk band ini. Gaya Freddie yang sangat nyentrik ini serta perpaduan ide-ide gila ini menciptakan sebuah album yang pertama kali kami buat dan mengorbankan satu unit mobil van kami. Demi menjalin kontrak dengan perusahaan rekaman EMI Record. Dan kami sangat bersyukur, lagu-lagu kami memasuki tangga lagu di Amerika dan kami melaksanakan tur di Amerika Serikat. Ini merupakan sebuah keajaiban bagi kami.
Tahun 1975, kami ingin mengangkat album dengan tema ”A Night at the Opera” dengan sinle berjudul “Bohemian Rhapsody” yang berdurasi 6 menit. Namun Eksekutif EMI, Ray Foster menolak lagu tersebut karena durasinya yang panjang yang menurutnya tidak ada radio yang mau memutar single ini. Tetapi Freddie meminta DJ Kenny Everett menyiarkan lagu tersebut di radio. Walaupun ulasannya beragam, "Bohemian Rhapsody" menjadi sukses besar. Kami juga melaksanakan tur dunia setelah single ini mendunia. Setelah tur dunia, Freddie memulai hubungan dengan Paul Prenter, manajer harian band. Tetapi kami mendapat info bahwa Mary memutuskan hubungannya dengan Freddie ketika ia tahu bahwa Freddie seorang biseksual, walaupun ia yakin bahwa Freddie seorang homoseksual.
Tetapi setelah itu, aku merasa Freddie berubah, tak seperti dulu lagi. Banyak perdebatan yang terjadi sampai ke hal-hal yang kecil. Sekarang dia sering sekali mabuk-mabukan, serta pesta narkoba dengan sesama homoseksualnya. Paul membawa pengaruh yang buruk untuk Freddie dan “Queen”. Hingga suatu malam, kami bertiga merasa muak dengan Freddie dan pergi meninggalkan pestanya. Kami bertiga merasa, dia bukanlah Freddie yang kami kenal seperti dulu.
Suatu saat Freddie mengumpulkan kami di rumahnya. Dia memberitahu bahwa dia telah menandatangani kontrak solo seniali 4 juta dollar dengan CBS Record, dan dia sangat santai sekali mengatakan semua akan baik-baik saja. Kami merasa Freddie sangat egois sekali. Kami sudah menganggap dia sebagai keluarga, tetapi dia malah hanya menganggap kami sebagai rekan kerja saja. Kami sangat kecewa sekali dengan Freddie. Setelah itu, “Queen” benar-benar vakum. Aku tak tahu lagi bagaimana keadaan Freddie. Sampai suatu saat “Queen” diundang untuk mengisi acara konser amal terbesar Live Aid. Manajer kami berusaha mengabari Freddie untuk tampil dalam konser amal tersebut, tetapi Paul selalu menghalangi kami berbicara dengan Freddie, padahal konser ini merupakan pencapaian terbesar kami yang kami impi-impikan.
Awalnya kami sudah putus harapan, kami pasti tidak akan tampil pada konser amal tersebut, tetapi manajer kami tiba-tiba menyuruh kami bertemu di kantornya membahas konser amal tersebut. Aku meliah Freddie didalam kantornya, dan melihat dia tak baik-baik saja dan berdiskusi dengan teman-teman personil yang lain. Freddie meminta maaf telah meninggalkan kami. Akhirnya kami memaafkan dan kami kembali berlatih untuk menampilkan penampilan terbaik di konser kami.
Tetapi Freddie membawa kabar buruk tentangnya, dia mengidap AIDS dan meminta kami merahasiakan ini kepada siapapun, kami berusaha menguatkan dan tanpa bersikap mengasihinya. Kami harus terus menampilkan penampilan yang terbaik pada konser amal terbesar ini. Aku melihat Freddie sangat tabah dengan ujian yang dijalaninya, dan aku sejujurnya kaget dan shock mendengar kabar ini.
Hari yang dinanti pun tiba, hari dimana “Queen” tampil kembali setelah lama vakum. Semua penonton sangat antusias terhadap penampilan kami. Bersyukurnya berkat kami tampil, donasi yang terkumpul meningkat drastis dan menyentuh angka lebih dari cukup. Segala sesuatu yang telah kami laksanakan merupakan usah kami yang disertai suka duka. Aku mencintai dan menyayangi kalian semua, terima kasih telah melukis bersama kehidupan kita ini, karena kita merupakan keluarga.

Penulis : Jamas Adri Waskito



Komentar

Tim Penyusun

1. Jamas Adri Waskito (18201241049)
2. Endah Dwi Ningrum (18201241057)
3. Hani Latifah (18201241059)
4. Zhao Caini (Anjani)

Kami merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2018.
Blog ini disusun untuk memenusi salah satu tugas Mata Kuliah Menulis Faktual

Postingan populer dari blog ini

Aspek Lisan Teks Eksposisi

Cara Membuat Lilin Aroma Terapi

Tiga Arca dalam Satu Kesatuan Syiwa di Candi Sambisari